Do Or Die

Di sebuah ruangan yang cukup berantakan bekas gudang penyimpanan beras, terdapat meja berbentuk lingkaran dengan sumber pencahayaan dari lampu gantung yang berada di atas meja tersebut. Meja tersebut cukup menampung enam orang untuk makan dan berdiskusi. Berkumpul lah enam orang pencuri dengan tiga di antaranya memegang tiga karung yang berisi uang dari hasil curiannya di sebuah Bank. Satu persatu mulai duduk dengan membawa krat bekas minuman botol. Keenam pencuri itu tidak mengenal satu sama lain dan untuk berkomunikasi mereka menggunakan angka satu sampai dengan enam untuk menjaga identitas mereka. Mereka yang terpilih dalam aksi tersebut memiliki keahlian masing-masing dalam aksi yang telah dilakukannya itu. Mereka tidak tahu siapa yang menyatukan mereka dalam komplotan tersebut. Ketika semua pencuri itu sudah duduk bersama pada meja tersebut, si nomor 1 mengambil amplop yang sudah ada di atas meja itu. Kemudian, 1 membuka amplop yang berisikan perintah untuk memberikan uang hasil curian tersebut, 1 membacakan perintah tersebut di hadapan yang lain. Kemudian mereka mulai berdiskusi bagaimana mereka dapat membagikan uang tersebut dengan adil, pada awal diskusi si nomor 1, 5 dan 6 sepakat untuk membagi rata uang tersebut, mereka bertiga beralasan bahwa semua pencuri memiliki resiko yang sama-sama besar, akan tetapi si nomor 3 dan 4 tidak setuju dengan usulan tersebut dengan dalih keduanya merasa dirugikan berdasarkan risiko itu. 3 dan 4 menganggap bahwa mereka berdua yang justru memiliki kemungkinan tertangkap dengan cepat karena pada saat melakukan aksi pencurian, 3 dan 4 lah yang bertugas memindahkan uang yang ada di berangkas ke dalam karung.

Dari keenam pencuri tersebut hanya si nomor 2 yang tidak berpihak pada siapapun, lantaran ia hanya ingin cepat cepat menerima bayaran dan pulang dengan tenang. Pada awalnya keenam pencuri itu tidak menemukan solusi terbaik, hingga si nomor 4 memberikan usulan untuk memberikan seluruh hasil curian kepada salah satu pencuri yang berhasil memenangkan permainan Russian Roulette. Hanya si nomor 6 yang setuju dengan usulan itu, hingga si nomor 4 membujuk si nomor 1, 5 dan 3 setuju. Ketika kelima pencuri itu melirik ke arah si nomor 2, dengan ragu-ragu si nomor 2 menolak usulan itu. Si nomor 3 dengan kesal menodongkan pistolnya ke pada 2 untuk memaksanya tetap ikut bermain, karena 3 takut bila 2 tidak bermain dan meninggalkan meja tersebut akan melaporkan aksi pencurian itu. Dengan terpaksa 2 ikut bermain. si nomor 2 mendapat giliran pertama untuk menarik pelatuk pada revolver yang berisi satu butir peluru. Dengan ketakutan, 2 perlahan mengambil revolver itu dan mengarahkan nya ke kepala si nomor 2. Beruntungnya 2 selamat dari revolver. Selanjutnya giliran 4 yang mendapat giliran kedua, ia dengan berani mengambil revolver yang berada di tengah meja dan mengarah ke arahnya. Revolver tersebut 4 arahkan ke dalam mulutnya begitu pelatuk ditarik, seketika itu pula badan 4 jatuh ke belakang meja. Semua pencuri yang masih hidup hanya terdiam untuk sementara, sampai si nomor 3 mengambil revolver yang berada di lantai kemudian memutarkannya kembali. Pada saat revolver itu berhenti berputar, senjata tersebut berhenti dan mengarah ke arah si nomor 1. Ia kemudian menggenggam revolver itu sambil berbicara tentang moral. Hal tersebut 1 bicarakan karena ingin menghentikan permainan itu.

Namun demikian, para pencuri lainnya merasa bahwa sudah terlambat untuk menghentikan permainan Russian Roulette, mereka menganggap bahwa kematian si nomor 4 akan sia-sia bila permainan masih menyisakan lima orang saja. pada akhirnya 1 mati karena peluru terhempas dari revolver itu. Setelah kematian 4 dan 1, si nomor 5 pun mati di susul si nomor 6. Permainan tersebut menyisakan si nomor 3 dan 2 yang sudah melewati kesempatannya dengan selamat. Si nomor 3 tidak ingin mati sebelum menikmati uang hasil curian itu membujuk untuk membagi dua dengan si nomor 2, namun si nomor 2 kesal dengan permintaan si nomor 3. Dengan kesal si nomor 2 mengambil revolver itu dan membunuh si nomor 3. Setelah kematian si nomer 3, si nomer 2 bisa tertawa dengan lepas dan menangis pada saat bersamaan. Si nomer 2 mengambil 6 peluru dan memasukan ke dalam revolver itu kemudian menembakan ke arah karung-karung yang berisi uang curian sebanyak lima kali, dan tembakan ke enam ia arahkan ke kepalanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s